Rudi Setyawan

Kebutuhan Investasi Sektor Pertanian Berbasis Pengembangan Komoditi di Nusa Tenggara Barat: Pendekatan Input-Output

Rudi Setyawan* Rini Dwi Astuti** Rosihan Asmara

Peran pembangunan pertanian telah membawa dampak positif terhadap pembangunan ekonomi nasional. Sebagaimana diketahui bahwa sektor pertanian membuktikan peranannya yang sangat baik saat Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1998. Disaat sektor lain mengalami kontraksi, sektor pertanian mampu tumbuh positif menyumbang perekonomian, terutama PDB dan penyerapan tenaga kerja.
Peran sektor pertanian diharapkan mampu mengatasi masalah keterbatasan ketersediaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat yang masih rendah di Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, program pembangunan propinsi Nusa Tenggara Barat masih mengandalkan sektor pertanian sebagai sektor pengukit dalam perekonomian daerah.
Salah satu upaya untuk mencapai tujuan pembangunan daerah di Nusa Tenggara Barat adalah pengembangan komoditi pertanian. Keterbatasan anggaran pembangunan daerah adalah alasan perlu dilakukannya penyusunan komoditi prioritas. Pembangunan daerah melalui pengembangan komoditi pertanian prioritas beberapa diantaranya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan PDRB dan output daerah. Peran investasi begitu penting di dalam telaah pembangunan pertanian, terutama dalam menghasilkan PDRB. Dari sini ICOR (Incremental Capital Output Ratio) digunakan sebagai tolok ukur kinerja investasi tersebut. Kemudian melalui ICOR dapat diketahui kebutuhan investasi komoditi pertanian prioritas tersebut di masa mendatang.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menyusun komoditi prioritas Propinsi Nusa Tenggara Barat berdasarkan kombinasi analisis pengganda (multiplier) dan analisis distribusi (share), (2) menganalisis nilai ICOR (Incremental Capital Output Ratio) komoditi pertanian prioritas di Propinsi Nusa Tenggara Barat dan (3) menganalisis kebutuhan investasi komoditi pertanian prioritas di Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu Propinsi Nusa Tenggara Barat. Alasan yang melatarbelakangi pemilihan daerah tersebut adalah kondisi daerah Nusa Tenggara Barat yang berbeda dengan propinsi lain, yaitu daerah kering di Indonesia yang sulit dikembangkannya beberapa jenis tanaman pangan dan hortikultura.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan diantaranya yaitu tabel Input-Output Nusa Tenggara Barat tahun 2000. Alasan penggunaan tabel I-O tahun 2000 tersebut adalah ketersediaan data dan juga publikasi tahun terbaru. Peran tabel I-O digunakan untuk memperoleh angka pengganda (multiplier) dan distribusi (share) komoditi pertanian terhadap perekonomian (output, pendapatan, nilai tambah dan ekspor). Masing-masing nilai angka pengganda dan distribusi memiliki satuan yang tidak sama yaitu angka pengganda yang tidak memiliki satuan dan nilai distribusi dalam satuan persen (%), maka dari itu dilakukan pembakuan sehingga diperoleh masing-masing indeks pengganda dan distribusi. Komoditi pertanian prioritas ditentukan berdasarkan urutan indeks prioritas gabungan tertinggi yang bernilai positif. Kemudian data yang digunakan selanjutnya yaitu data investasi dan PDRB komoditi pertanian Nusa Tenggara Barat tahun 2000-2005 yang diperoleh dari pengembangan koefisien teknis berdasarkan tabel I-O thun 2000. Data tersebut digunakan untuk menganalisis nilai ICOR dan proyeksi kebutuhan investasi komoditi pertanian prioritas lima tahun yang akan datang (tahun 2006-2010).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui indeks prioritas gabungan yang bernilai positif diperoleh sembilan komoditi pertanian prioritas Propini  Nusa Tenggara Barat. Urutan kesembilan komoditi pertanian prioritas tersebut yaitu padi, bawang putih, bawang merah,  unggas dan hasil-hasilnya, perikanan laut, perikanan darat, sapi, kacang tanah dan kedelei.
Hasil analisis ICOR menunjukkan bahwa kesembilan komoditi pertanian prioritas masing-masing memiliki nilai ICOR sebesar: padi 3,39; bawang putih 1,19; bawang merah 1,91; unggas dan hasil-hasilnya 1,77; perikanan laut 1,04; perikanan darat 1,20; sapi 4,07; kacang tanah 2,14 dan kedelei 1,63. Nilai ICOR sapi sebesar 4,07 bermakna bahwa untuk menghasilkan pertumbuhan PDRB sebesar 1% maka dibutuhkan pertumbuhan investasi sebesar 4,07%.
Kebutuhan investasi  terbesar komoditi pertanian prioritas ada pada komoditi sapi, sedangkan kebutuhan investasi terendah yaitu bawang putih. Kebutuhan investasi komoditi pertanian prioritas terbesar ada pada komoditi sapi dan menempati urutan ketujuh dalam susunan komoditi pertanian prioritas. Kebutuhan investasi komoditi sapi pada tingkat pertumbuhan PDRB rata-rata 8% per-tahun dibandingkan PDRB tahun 2005 memerlukan investasi pada tahun 2010 sebesar Rp.249.831 juta. Angka ini kurang lebih 191,10% nilai PDRB komoditi sapi tahun 2005. Ini dapat dijelaskan bahwa 191,10% dari PDRB saat sekarang (2005) harus disiapkan untuk kebutuhan lima tahun ke depan (2010) untuk menghasilkan pertumbuhan 8% per-tahun. Sebaliknya kebutuhan investasi komoditi pertanian prioritas terendah ada pada komoditi bawang putih yang menempati urutan kedua dalam susunan komoditi pertanian prioritas. Hal ini dikarenakan komoditi bawang putih bernilai ICOR paling rendah diantara komoditi pertanian prioritas yaitu 1,19, sehingga kebutuhan investasi lima tahun kedepan dengan tingkat pertumbuhan PDRB rata-rata 8% per-tahun dibandingkan PDRB tahun 2005 memerlukan investasi pada tahun 2010 sebesar Rp.55.124 juta. Angka ini kurang lebih 56,02% dari PDRB komoditi bawang putih tahun 2005.
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa komoditi sapi mempunyai kebutuhan investasi tertinggi dengan kinerja investasi (ICOR) sebesar 4,07 dan menempati urutan ketujuh dalam susunan komoditi pertanian prioritas. Sedangkan bawang putih mempunyai kebutuhan investasi terendah dengan kinerja investasi (ICOR) sebesar 1,19 dan menempati urutan kedua dalam susunan komoditi pertanian prioritas. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah : pemerintah daerah propinsi Nusa Tenggara Barat dengan kondisi keterbatasan dana pembangunan daerah yang ada seyogyanya dapat memprioritaskan komoditi-komoditi pertanian yang memiliki kinerja investasi tinggi yang tercermin dari nilai ICOR yang rendah.

Kata kunci:  komoditi pertanian prioritas, input output, incremental capital output ratio, kebutuhan investasi

One Response to Rudi Setyawan

  1. Sri Hery says:

    Data Investasi yang digunakan dalam kajian ini menggunakan pendekatan data dari Tabel I-O. Sementara kita tahu bahwa dalam Tabel I-O tersebut data yang digunakan sebagai proksi investasi sebetulnya adalah PMTB (Penambahan Modal tetap Bruto), yaitu output yang digunakan untuk keperluan modal tetap. Sehingga tidak tepat apabila menggunakan data I-O sebagai proksi dari Investasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>