Neraca Bahan Makanan

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia, hal ini sesuai dengan Undang-undang nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan. Pada kenyataannya peta penduduk rawan pangan di Indonesia yang diumumkan oleh BPS pada tahun 2009 masih menunjukkan situasi sangat memprihatinkan. Jumlah penduduk sangat rawan pangan yaitu dengan asupan kalori kurang dari 1.400 kkal per orang per hari masih cenderung mengalami peningkatan. Rendahnya aksesibiltas pangan yaitu kemampuan rumah tangga untuk selalu memenuhi kebutuhan pangan anggotanya, mengancam penurunan konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman di tingkat rumah tangga. Pada akhirnya akan berdampak pada semakin beratnya masalah kekurangan gizi masyarakat, terutama pada kelompok rentan yaitu ibu, bayi dan anak.

Sampai saat ini situasi gizi dunia menunjukkan dua kondisi yang ekstrem, mulai dari kelaparan sampai pada pola makan yang mengikuti gaya hidup yaitu rendah serat dan tinggi kalori serta mulai kondisi kurus dan pendek sampai kegemukan. Disisi lain, penyakit menular dan penyakit tidak menular juga meningkat, sangat jelas peran gizi berkontribusi bermakna pada penanggulangan ke dua jenis penyakit ini. Untik mencapai status kesehatan yang optimal, dua sisi beban penyakit ini perlu diberi perhatian lebih pada pendekatan gizi, baik masyarakat kaya maupun pada kelompok masyarakat miskin.
Pembangunan pangan dan gizi bukan hanya merupakan pembangunan yang bersifat parsial tetapi merupakan penajaman upaya pencapaian sasaran-sasaran pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat. Untuk itu pembangunan pangan dan gizi menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan nasional, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan tahap pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan pembangunan.

Untuk menjawab masalah ini diperlukan informasi mengenai situasi pangan disuatu negara/daerah pada periode tertentu. Hal ini dapat terlihat dari gambaran produksi, pengadaan dan penggunaan pangan serta tingkat ketersediaan untuk konsumsi penduduk per kapita. Salah satu cara untuk memperoleh gambaran situasi pangan dapat disajikan dalam suatu neraca atau tabel yang dikenal dengan nama “Neraca Bahan Makanan”. Dalam rangka penyusunan program pembangunan ketahanan tersebut, maka diperlukan  analisisi situasi pangan yang dituangkankan dalam Neraca  Bahan Pangan.

Neraca Bahan Makanan (NBM) memberikan informasi tentang situasi pengadaan/penyediaan pangan, baik yang berasal dari produksi dalam negeri, impor/ekspor dan stok serta penggunaan pangan untuk kebutuhan pakan, bibit, penggunaan untuk industri, serta informasi ketersediaan pangan untuk dikonsumsi penduduk suatu negara/wilayah dalam kurun waktu tertentu (BKP, 2006)

Neraca  Bahan Makanan  disusun dalam suatu Tabel NBM terdiri dari 19 kolom yang terbagi menjadi 3 kelompok penyajian yaitu pengadaan/penyediaan, penggunaan/pemakaian dan ketersediaan per kapita. Jumlah pengadaan harus sama dengan jumlah penggunaan. Komponen pengadaan meliputi produksi (masukan dan keluaran), perubahan stok, impor dan ekspor. Sedangkan komponen penggunaan meliputi penggunaan untuk pakan, bibit, industri (makanan dan bukan makanan), tercecer, dan bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi.  Tabel NBM dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Jenis Bahan Makanan (kolom 1)
    • Produksi, terdiri atas : input dan output (kolom 2 & 3)
    • Perubahan Stok (kolom 4)
    • Impor (kolom 5)
    • Persediaan dalam negeri sebelum ekspor (kolom 6)
    • Ekspor (kolom 7)
    • Penyediaan dalam negeri (kolom 8 )
    • Pemakaian/penggunaan dalam negeri (kolom 9 s/d 14)
    • Ketersediaan untuk konsumsi per kapita (kolom 15 s/d 19)

Tabel NBM

Bahan makanan yang berupa produk turunan tersebut dapat masuk dalam satu kelompok bahan makanan yang sama atau kelompok bahan makanan yang berbeda dengan jenis bahan makanan awalnya. Ada 11 kelompok bahan makanan yang terdapat di Tabel NBM  yang disajikan dalam kolom  1,  yang terdiri dari kelompok:

  1. Padi-padian : terdiri dari padi/gabah, gabah/beras, jagung, jagung basah atau muda, gandum, dan tepung gandum
  2. Makanan berpati : Terdiri dari ubi jalar, ubi kayu, gaplek, tapioka, sagu atau tepung sagu.
  3. Gula : terdiri dari gula pasir dan gula mangkuk.
  4. Buah biji berminya: terdiri dari kacang tanah berkulit, kacang tanah lepas kulit, kedelai, kacang hijau, kelapa berkulit dan kelapa daging atau kopra.
  5. Buah-buahan : terdiri dari alpokat, jeruk, duku, durian, jambu, mangga, nanas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sawo, semangka, belimbing, manggis, nanka/cempedak, markisa, sirsak, sukun dan lainnya.
  6. Sayur-sayuran : terdiri dari bawang merah, ketimun, kacang merah, kacang panjang, kentang, kubis, tomat, wortel, cabe, terong, petsai/sawi, bawang daun, kangkung, lobak, labu siam, buncis, bayam, bawang putih, kembang kol, jamur, melinjau, petai dan lainnya.
  7. Daging : terdiri dari daging sapi, daging kerbau, daging kambing, daging domba, daging kuda/lainnya, daging babi, daging ayam buras, daging ayam ras, daging itik dan jeroan semua jenis.
  8. Telur : terdiri dari telur ayam buras, telur ayam ras dan telur itik.
  9. Susu: terdiri dari susu sapi dan susu impor.
  10. Ikan : terdiri dari ikan tuna/cakalang/tongkol, kakap, cucut, bawal, teri, lemuru, kembung, tenggiri, bandeng, belanak, mujair, ikan mas, udang, rajungan, kerang darah, cumi-cumi, sotong dan lainnya.
  11. Minyak dan lemak: terdiri dari kacang tanah/minyak, kopra/minyak goreng, minyak sawit/ minyak goreng, lemak sapi, lemak kerbau, lemak kambing, lemak domba, dan lemak babi..
This entry was posted in Ketahanan Pangan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>