Program E-Learning Sebagai Upaya Peningkatan World Class University

Dalam rangka peningkatan World Class University (WCU), Segenap Pimpinan Universitas Brawijaya mulai Tingkat rektorat sampai tingkat jurusan melakukan rapat kerja di Kusuma Agrowisata Batu. Salah satu agenda yang menjadi perhatian utama adalah peningkatan pembelajaran menggunakan media ICT.

Pembelajaran yang menggunakan media elektronik tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran. Pembelajaran yang konfensional yang hanya menggunakan tatap muka murni dilengkapi dengan elearning yang berisi tentang semua materi dan bahan ajar.

Berbagai isu yang disajikan adalah :

- Mempunyai banyak kelas dan mahasiswa  ?
- Waktu anda habis untuk mengajar ?
- Ingin menerapkan student centered Leaning ?
- Ingin mahasiswa anda aktif dan mandiri ?
- Ingin mahasiswa anda mempunyai sumber belajar yang lebih luas
- Ingin PS, Jurusan, Fakultas, Universitas maju ?
- Menginginkan diri sendiri tidak dianggap sebagai dosen yang ketinggalan zaman?
Bagi pimpinan isu yang berkembang adalah :
- Mengetahui Materi apa yang diberikan dosen di “tim teaching” ?
- Bagaimana “tim teaching” melakukan evaluasi?
- Berapa alokasi waktu efektif dosen dalam “tim teaching” memberikan materi?
Dalam terminologi E-Learning, berbagai definisi telah dikemukakan oleh berbagai ahli, akan tetapi secara umum definisi E-Learning adalah pembelajaran menggunakan media elektronik.
Posted in Academic, Activity | Tagged | Leave a comment

Neraca Bahan Makanan

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia, hal ini sesuai dengan Undang-undang nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan. Pada kenyataannya peta penduduk rawan pangan di Indonesia yang diumumkan oleh BPS pada tahun 2009 masih menunjukkan situasi sangat memprihatinkan. Jumlah penduduk sangat rawan pangan yaitu dengan asupan kalori kurang dari 1.400 kkal per orang per hari masih cenderung mengalami peningkatan. Rendahnya aksesibiltas pangan yaitu kemampuan rumah tangga untuk selalu memenuhi kebutuhan pangan anggotanya, mengancam penurunan konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman di tingkat rumah tangga. Pada akhirnya akan berdampak pada semakin beratnya masalah kekurangan gizi masyarakat, terutama pada kelompok rentan yaitu ibu, bayi dan anak.

Sampai saat ini situasi gizi dunia menunjukkan dua kondisi yang ekstrem, mulai dari kelaparan sampai pada pola makan yang mengikuti gaya hidup yaitu rendah serat dan tinggi kalori serta mulai kondisi kurus dan pendek sampai kegemukan. Disisi lain, penyakit menular dan penyakit tidak menular juga meningkat, sangat jelas peran gizi berkontribusi bermakna pada penanggulangan ke dua jenis penyakit ini. Untik mencapai status kesehatan yang optimal, dua sisi beban penyakit ini perlu diberi perhatian lebih pada pendekatan gizi, baik masyarakat kaya maupun pada kelompok masyarakat miskin.
Pembangunan pangan dan gizi bukan hanya merupakan pembangunan yang bersifat parsial tetapi merupakan penajaman upaya pencapaian sasaran-sasaran pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat. Untuk itu pembangunan pangan dan gizi menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan nasional, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan tahap pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan pembangunan.

Untuk menjawab masalah ini diperlukan informasi mengenai situasi pangan disuatu negara/daerah pada periode tertentu. Hal ini dapat terlihat dari gambaran produksi, pengadaan dan penggunaan pangan serta tingkat ketersediaan untuk konsumsi penduduk per kapita. Salah satu cara untuk memperoleh gambaran situasi pangan dapat disajikan dalam suatu neraca atau tabel yang dikenal dengan nama “Neraca Bahan Makanan”. Dalam rangka penyusunan program pembangunan ketahanan tersebut, maka diperlukan  analisisi situasi pangan yang dituangkankan dalam Neraca  Bahan Pangan.

Neraca Bahan Makanan (NBM) memberikan informasi tentang situasi pengadaan/penyediaan pangan, baik yang berasal dari produksi dalam negeri, impor/ekspor dan stok serta penggunaan pangan untuk kebutuhan pakan, bibit, penggunaan untuk industri, serta informasi ketersediaan pangan untuk dikonsumsi penduduk suatu negara/wilayah dalam kurun waktu tertentu (BKP, 2006)

Neraca  Bahan Makanan  disusun dalam suatu Tabel NBM terdiri dari 19 kolom yang terbagi menjadi 3 kelompok penyajian yaitu pengadaan/penyediaan, penggunaan/pemakaian dan ketersediaan per kapita. Jumlah pengadaan harus sama dengan jumlah penggunaan. Komponen pengadaan meliputi produksi (masukan dan keluaran), perubahan stok, impor dan ekspor. Sedangkan komponen penggunaan meliputi penggunaan untuk pakan, bibit, industri (makanan dan bukan makanan), tercecer, dan bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi.  Tabel NBM dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Jenis Bahan Makanan (kolom 1)
    • Produksi, terdiri atas : input dan output (kolom 2 & 3)
    • Perubahan Stok (kolom 4)
    • Impor (kolom 5)
    • Persediaan dalam negeri sebelum ekspor (kolom 6)
    • Ekspor (kolom 7)
    • Penyediaan dalam negeri (kolom 8 )
    • Pemakaian/penggunaan dalam negeri (kolom 9 s/d 14)
    • Ketersediaan untuk konsumsi per kapita (kolom 15 s/d 19)

Tabel NBM

Continue reading

Posted in Ketahanan Pangan | Tagged , , | Leave a comment

Analisis Efisiensi Alokatif Agroindustri Chips Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Mocaf (Modified Cassava Flour)

Analisis Efisiensi Alokatif Agroindustri Chips Ubi Kayu
Sebagai Bahan Baku Mocaf (Modified Cassava Flour)

 Rosihan Asmara1, Nuhfil Hanani, Abid Eka Pradana1

ABSTRAK

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah (1) Menganalisis besarnya biaya, penerimaan, keuntungan dan kelayakan usaha kelompok agroindustri pengolahan chips ubi kayu. (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi chips ubi kayu. (3) Menganalisis efisiensi alokatif penggunaan faktor produksi chips ubi kayu di daerah penelitian. Hasil penelitian antara lain adalah agroindustri chips ubi kayu secara rata – rata telah mengalami keuntungan dalam usahanya dan berarti agroindustri chips ubi kayu layak untuk di usahakan. Berdasarkan nilai r/c rasio didapatkan nilai 1,089 yang berarti lebih dari 1. Dalam hal ini setiap Rp. 1,00 yang diinvestasikan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp. 1,089. Faktor produksi yang berpengaruh secara nyata terhadap produksi chips adalah ubi kayu. Dari hasil analisis diketahui bahwa nilai NPMx/Px alokasi ubi kayu sebesar 1,28 dimana angka tersebut lebih besar dari satu, sehingga alokasi bahan baku ubi kayu di daerah penelitian belum efisien. Dengan demikian penambahan alokasi penggunaan bahan baku ubi kayu dapat dilakukan jika kelompok agroindustri pengolahan chips ubi kayu di daerah penelitian masih menginginkan keuntungan yang lebih besar lagi.

Kata kunci :  Efisiensi Alokatif, Agroindrustri, Chips Ubi Kayu, Mocaf.

Posted in Jurnal | Tagged , , , , | Leave a comment

Kurva Penawaran

B.2.  Kegiatan 2: Penawaran Barang dan Jasa Pada Pasar Kompetitif
B.2.1.  Tujuan Kegiatan
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan dapat:

  • Memahami pasar kompetitif pada aktivitas ekonomi
  • Menjelaskan proses dan hukum penawaran pada pasar kompetitif
  • Menggambarkan kurva penawaran dan serta menghitung jumlah barang yang ditawarkan berdasarkan penawarannya.
  • Mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi penawaran suatu barang dan jasa

B.2.2. Uraian Materi Belajar 2
Sampai di mana keinginan para penjual menawarkan barangnya pada berbagai tingkat harga ditentukan oleh beberapa faktor. Diantaranya yang penting adalah:

  1. Harga barang itu sendiri
  2. Harga barang-barang lain (barang-barang substitusi)
  3. Biaya produksi
  4. Tujuan-tujuan perusahaan
  5. Tingkat teknologi yang digunakan.

Kurve penawaran adalah kurve yang menunjukkan hubungan antara tingkat harga barang tertentu dan jumlah barang tersebut yang ditawarkan oleh penjual.

Tabel 2.2. Tabel Penawaran Hand Phone

Titik A pada kurve, menggambarkan pada harga HP Rp. 1.000.000,-  jumlah HP yang ditawarkan penjual  sebanyak 900 buah;   titik B menunjukkan pada harga Rp. 900.000,- jumlah HP yang ditawarkan penjual sebanyak 800 buah, dan seterusnya.  Kurve penawaran pada umumnya naik dari kiri bawah ke kanan atas ( ber-slope positif), artinya jika harga barang naik penawaran barang tersebut akan naik dan sebaliknya jika harga barang turun maka penawaran barang tersebut akan turun.  Jadi, pengaruh harga barang itu sendiri terhadap penawaran barang, ditunjukkan oleh gerakan di sepanjang kurve penawaran.

Penjelasan Lengkap berupa modul dan presentasi (ppt) dapat diperoleh di http://elearning.fp.ub.ac.id

Anda dapat mengakses tautan lain yang berhubungan dengan topik Kurva Penawaran

Supply Curve

Permintaan dan Penawaran serta terbentunya Harga Pasar

Posted in Academic, Tutorial | Leave a comment